Maandag 14 Julie 2014





                                                        PERAN KEPEMIMPINAN CAMAT

PERAN KEPEMIMPINAN CAMATkepemimpinan camat adalah kemampuan individu tentang bagaimana caranya agar bisa diterima dengan baik dan pengaturan terhadap pengikut, mengandalkan kewibawaan yang berlandaskan pada kepercayaan pengikut, berperan sebagai pencetus ide-ide, pengarah, serta koordinasi dimana kumpulan-kumpulan secara bersan. hal ini sejalan dengan rumusan, kepemimpinan merupakan kemampuan seseorang dalam mempengaruhi orang lain agar orang tersebut mau menjalankan apa yang dikehendakinya.


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Dalam  berbagai  literatur  diketahui  bahwa  peranan  kepemimpinan   di distrik Ibeleh sebenarnya  sudah  banyak  yang  mengalami   perubahan  yang  cukup  berarti  sejak  masa  orde  baru  sampai  sekarang,  Namun  pada  akhir-akhir  ini  perkembangannya  ternyata  mengalami  stagnasi  dan  cenderung  kembali  kepada  peranan  kepemimpinan  di  masa  orde  baru  dikarenakan  situasi  dan  kondisi  yang  berkembang  di  masyarakat   saat  ini.  Untuk  menghindari  komplikasi  yang  terjadi,  maka  peranan kepemimpinan  camat  berubah  ke  arah  dalam   atau  lebih  tepat  lagi  ke  arah  yang  lebih  proteksi  diri  daripada  peranan  kepemimpinan  yang  keluar  atau  terbuka.  Perubahan-perubahan  peranan  kepemimpinan  yang  demikian  itu  menarik  untuk  dikaji  lebih  lanjut  sehingga  pada  akhirnya  hasilnya dapat  dibuat  suatu  organisasi kepemimpinan  camat  yang  mampu  mencari  problem  solving  (sebagai  inti  dari  kepemimpinan  itu  sendiri)  dan  sekaligus  menjawab  tantangan  berbagai  persoalan.
Seorang  pemimpin  di  dalam  melaksanakan  kepemimpinan  haruslah  memiliki  kriteria-kriteria  yang  diharapkan,  dalam  arti  seorang  pemimpin  harus  memiliki  kriteria  yang  lebih  dari  pada  bawahannya  misalnya  jujur,  adil,  bertanggung  jawab,  loyal,  energik,  dan  beberapa  kriteria-kriteria  lainnya.  Kepemimpinan  merupakan  sebuah  hubungan  yang  kompleks,  oleh  karena  berhadapan  dengan  kondisi-kondisi  ekonomi,  nilai-nilai  sosial budaya  dan  pertimbangan  politis.  Bennis  dalam  Kartono,  (1999: 75)  memberi  batasan  kepemimpinan  sebagai “ the  process by  which  an  agent  induces  a  subordinate  to  behave  in  a  desired  manner  (proses  yang  digunakan  seorang  pejabat  menggerakkan  bawahannya  untuk  berlaku  sesuai  dengan  cara  yang  diharapkan).
Dari  definisi  di  atas  dapat  dinyatakan  bahwa  kepemimpinan   adalah  merupakan  proses  mempengaruhi  atau  menggerakkan  bawahan  (followers)  agar  mau  melaksanakan  apa  yang  diinginkan  atau  diharapkan  oleh  pimpinan  tersebut.  Oleh  karena  pentingnya  peranan  kepemimpinan  di  dalam  kehidupan  organisasional,  ada  pakar  yang  menyebut  bahwa  “Leadership  is  getting  things  done  by  the  others”.
Kepemimpinan  adalah  suatu  proses  dimana  pimpinan/pemimpin  dapat  mempengaruhi  bawahannya/orang  lain,  agar  bawahan/orang  lain  tersebut  mau  melakukan  apa  yang  diinginkan  oleh  pimpinan/pemimpin  tersebut.  Peranan kepemimpinan  camat adalah  cara  yang  digunakan  pimpinan/pemimpin  dalam  mempengaruhi  bawahan/orang  lain,  agar  tercapai  apa  yang  diinginkannya.  Kemampuan hasil  kerja kecamatan  yang  nyata  diperoleh  oleh  tenaga  kerja  yang  didasari  sikap  mental  yang  patriotik  yang  menganggap  bahwa  hari  ini  harus  lebih  baik  dari  hari  kemarin  dan  hari  esok  harus  lebih  baik  dari  hari  ini.  Cara-cara kerja  hari  ini  harus  lebih  baik  dari  cara-cara  kerja  kemarin,  dan  cara-cara  kerja  hari  esok  harus  lebih  baik  dari  cara-cara  kerja  hari  ini.
maka meningkatkan  Produktivitas  kerja, kepemimpinan  situasional  adalah  gaya  yang  paling  sesuai  diterapkan  seorang  pemimpin/pimpinan  saat  ini,  mengingat  bahwa  penerapan  gaya  ini  disesuaikan  dengan  tingkat  kematangan  bawahan/pengikut.  Hal  ini  didasari  asumsi  bahwa  setiap  bawahan/orang  lain  akan  memiliki   tingkat    kematangan  yang  berbeda  satu  sama  lain.
Namun  permasalahan  kinerja  pemerintahan kecamatan ini  menjadi  dasar  acuan  bagi  pemimpin,  lalu  bagaimana  kepemimpinan  tersebut  dapat  memenuhi  keinginan  masyarakat   untuk  memperoleh  kinerja  pemimpin yang  baik,  dengan  dukungan  para  pegawai  yang  merupakan  bagian  penting  dalam  pencapaian  penyelengkaraan kinerja  suatu organisasi kecamatan  yang  sukses, seperti  pendapat  Keith  Davis  (1997: 205)  kepemimpinan  adalah  pola  perilaku  dan  strategi  yang  disukai  dan  sering  diterapkan  oleh  seorang  pimpinan. Oleh sebab itu peranan Kepemimpinan   juga  menunjukkan,  secara  langsung  maupun  tidak  langsung,  keyakinan  seorang  pimpinan  terhadap  kemampuan  bawahannya.  Jadi  kepemimpinan  adalah  perilaku  dan  strategi,  sebagai  hasil  kombinasi  dan  falsafah,  keterampilan,  sifat,  sikap,  yang  sering  diterapkan  seorang  pimpinan  ketika  ia  mencoba   mempengaruhi   kinerja  bawahannya.
Kepemimpinan  pada  intinya  merupakan  proses  mempengaruhi  orang  lain dalam  mencapai   tujuan  yang  telah  ditetapkan.  Pengertian  ini  menekankan  pada  kalimat  mempengaruhi  orang  lain,  yang  didalamnya  mengandung  unsur  hubungan,  proses,  dan  kegiatan.  Untuk  mencapai  tujuan  bersama,  seorang  pemimpin  perlu  menggunakan  berbagai  cara.  Cara-cara  tersebut  biasanya  diwujudkan  dengan  memberi  petunjuk,  mengarahkan,  dan  membina  untuk  melakukan  berbagai  aktivitas  yang  berhubungan  dengan  tugas  dan  tanggung  jawabnya.  Oleh  karena  itu,  seorang kepemimpinan  dinyatakan  sebagai  usaha  mempengaruhi  orang  lain  untuk  mencapai  tujuan  kelompok.
Pemimpin atau manajer yang efektif tidak hanya mempengaruhi bawahannya, tetapi ia juga mampu menjamin bawahannya mencapai pelaksanaan kerjanya yang terbaik. Pendapat tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan seorang pemimpin dapat dilihat dari kemampuan untuk mempengaruhi bawahannya untuk senantiasa mentaati apa yang menjadi harapan organisasi. Kepemimpinan pada era globalisasi yang sarat dengan tantangan, persaingan dan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), jika pemimpin memiliki keunggulan yang kompetitif dalam memimpin suatu organisasi. Pemimpin tersebut tidak akan dapat menjalankan organisasinya secara efektif dan efisien, apabila dalam penyelenggaraan tugas pemimpin mempunyai suatu keahlian. Penyelenggaraan tugas pemimpin dapat mencapai hasil yang baik, apabila adanya peningkatan kualitas profesionalisme pemimpin yang mampu Pemimpin unit organisasi mempunyai peranan yang sangat strategis guna mengarahkan, membimbing dan mendorong kinerja bawahan dalam pelaksanaan tugas yang telah digariskan oleh organisasi, sehingga pelayanan pemimpin dapat dilaksanakan secara efektif, efisien dan akuntabel. Hal tersebut dapat diwujudkan, apabila pada setiap pemimpin unit organisasi menggunakan kepemimpinan yang efektif dan efisien
Dengan demikian Pelaksanaan tugas dan fungsi tersebut, menjadi kewajiban pemimpin unit organisasi. Pemimpin unit organisasi mempunyai peranan yang sangat strategis guna mengarahkan, membimbing dan mendorong kinerja bawahan dalam pelaksanaan tugas yang telah digariskan oleh organisasi kecamatan, sehingga pelayanan masyarakat dapat dilaksanakan secara efektif, efisien dan akuntabel. Hal tersebut dapat diwujudkan, apabila pada setiap pemimpin unit organisasi menggunakan kepemimpinan yang efektif dan efisien.
Peranan Kepemimpinan menyangkut proses mempengaruhi sosial dengan pengaruh yang disengaja digunakan oleh seseorang terhadap orang lain untuk mengorganisir kegiatan–kegiatan dan hubungan–hubungan dalam organisasi. Dalam kepemimpinan camat yang paling penting adalah menginterpretasikan peristiwa-peristiwa, memetakan jalannya organisasi, membangun  kerja sama antar anggota organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sekecil apapun organisasi, peranan pemimpin sangat dominan dalam menciptakan, mengembangkan, memelihara dan meningkatkan kerja sama baik vertikal, horizontal maupun diagonal. Hal tersebut  mempengaruhi semua bawahan atau pengikut agar dapat memberikan pengabdian untuk mencapai tujuan organisasi. Kesulitan  oleh  para  pemimpin  untuk  menjadi  agen   perubahan  bukan  terletak  kepada  cara  bagaimana  memperoleh  konsep  dan  keterampilan  pribadi  yang  baru,  namun  lebih  disebabkan  oleh   ketidak pedulian pemimpin  menghindarkan  kebiasaan  tidak  baik  yang  dimilikinya.  Mereka  lebih  menikmati  kekuasaan   sebagai  kepala  atau  komandan  yang  bisa  memaksakan   kemauan   sendiri,  ketimbang   memanfaatkan  peluang  yang  ada  untuk  menggunakan  wewenang   yang   melekat   itu   demi   memuaskan  kepentingan  umum,   kepemimpinan  yang  baik  adalah  pimpinan  yang   memberikan   perlindungan  baik  internal  maupun  eksternal,  bila   melihat   dan   mencerna   fungsi  kecamatan  sebagai  fungsi  pelayanan  publik  maka   pimpinan   kecamatan   tidak   hanya  milik  internal  (pegawai  atau  organisasi)   tapi  camat  sebagai  pimpinan wilayah  adalah  milik  semua  pihak,  bertugas  dan  bertanggung  jawab  atas  nama  pemerintah   untuk   memberikan  pelayanan,  namun  sisi  operasionalisasi  tentunya  bukan  tanpa  hambatan,  salah   satu   hambatan   terbesar  adalah  bagaimana penciptaan  lingkungan  yang bersih (Good Governance) dalam tata kelola pemerintahan  daerah,  mengingat  masyarakat   sebagai   stackholder   terus   menerus dan   menghendaki  wajah  pemeintah kecamatan  di   seluruh  lapisan  mejadi  bersih.
Kepemimpinan memegan peranan yang penting dalam pencapaian tujuan organisasi,  Jika Kecamatan merupakan wilayah kerja Camat sebagai perangkat daerah dipimpin Camat, yang berkedudukan di bawah dan bertanggungjawab kepada Walikota melalui Sekretaris Daerah. Camat mempunyai tugas dan fungsi melaksanakan sebagian urusan kewenangan pemerintah daerah yang dilimpahkan oleh Walikota untuk menangani urusan otonomi daerah. Kecamatan mempunyai tugas menyelenggarakan pengelolaan penyusunan perencanaan dan program, urusan keuangan, kepegawaian, umum dan mengkoordinasikan secara teknis dan administratif pelaksanaan kegiatan kecamatan serta pelaksanaan tugas lain yang diberikan tugas Camat adalah Memimpin organisasi kecamatan,dan mengkoordinasikan pelaksanaan tugas dan fungsi Kecamatan secara keseluruhan Camat membina mengarahkan mengkotrol, Kerja Pegawai Kantor Kecamatan maupun Kelurahan untuk mencapai tujuan pemerintah telah ditentukan sebelumnya, pengelolan kecamatan oleh camat dan kerja pegawai di kantor kecamatan Ibele sesuai aspirasi masyarakat yang dinaikan kepada Camat maupun Kinerja Pagawai Kecamatan untuk mencapai hadapan masyarakat kecamatan.
Sesuai denngan produktivitas mengadung  pengertian sikap mental maupun kemampuan yang selalu mempunyai padangan, mutu kehidupan sehari ini lebih baik dari kemarin dan hari esok serta lebih baik hari ini secara umum produktivitas mengadung pengertian perbandingan terbaik antara hasil yang tercapai (output) selalu sumber daya yang digunakan (input). Selain  itu dapat dikatakan bahwa kinerja sebagai suatu hasil atau output  dari suatu proses pelaksanaaan tugas akan berpengaruh terhadap produktivitas  kerja yang memandai semakin baik kinerja pagawai semakin produktif, atau produktivitas kerjanya semakin meningkat.
Jika produktivitas kerja atau kinerja kecamatan Ibele merupakan suatu akibat dari persyaratan kerja yang harus dipenuhi oleh pegawai untuk memberoleh hasil maksimal, dimana dalam pelaksanaan  produktivitas kerja terletak pada faktor manusia sebagai pelaksana kegiatan pekerjaan sumber daya manusia adalah unsur pendukung dan penujang pelaksanaan kegiatan yang terdiri atas tenaga, dana, dan sarana parasarana,
Demikian kerja pegawai kecamatan merupakan aktivitas dasar dan bagian esensial dari kehidupan manusia. Sama dengan kegiatan permainan bagi anak-anak, maka kerja memberikan kesenangan dan arti tersendiri dari kehidupan manusia,sebab kerja itu memberikan status kepada seseorang, dan mengikatkan diri sendiri dengan individu-individu lain dalam masyarakat
Hersey dalam Wibowo, menjelaskan,kerja pegawai ditentukan oleh tujuan yang hendak dicapai dan untuk melakukannya diperlukan adanya motif. Tanpa dorongan motif untuk mencapai tujuan, kerja tidak akan berjalan. Dengan demikian, tujuan dan motif menjadi indikator utama dari kerja.Namun, kualitas kerja dan kuantitas pekerjaan dan ketepatan waktu memerlukan adanya dukungan lain yaitu: sarana, kompetensi, peluang, /standar, dan umpan balik, dan Kerja Pegawai Kecamatan menangani sesuai kewenagan yang terima atasan, untuk mengurus, mengatur, mengarahkan, melayani dan mengabdi masyarakat mempunyai tugas dan fungsi melaksanakan sebagian mengurus urusan pemerintahan daerah di dikecamatan Ibele, sesuai dengan tingkat kemampuan, hasil kerja yang telah tercapai dalam pelaksanaan tugas dan pekerjaan yang dilimbahkan oleh camat kepada Pegawai Kecamatan Ibeleh Kabupaten Wamena. Dalam penyelenggaraan Pemerintahan kecematan, sangat ditentukan oleh sistem organisasi kecamatan yang ada demi terciptanya tujuan penyelenggaraan pemerintahan yang baik. Tujuan yang utama dari penyelenggaraan pegawai adalah terciptanya kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Tujuan tersebut dapat diwujudkan antara lain dengan cara peningkatan pelayanan kepada masyarakat.
Demikian pendapat Soedardjat,mengatakan  pegawai adalah manusia yang sedang melakukan aktivitas atau kegiatan akan dituntut kreaktivitasnya, dan setiap pegawai atau pejabat harus memiliki 4 CT: cepat tanggap,cepat temu, cepat tindak,dan cepat tuntas, oleh sebab itu kerja pegawai kecamatan ibele melaksanakan tugas dan tanggungjawab dalam urusan diwilayah  kecamatan melakukan suatu kerja apa bila terdorong  oleh suatu  tujuan untuk  memperoleh  hasil  yang dapat tercapai.
Berdasarkan latar belakang diatas maka Penulis Melakukan Penelitian dengan judul: “Peranan Kepemimpinan Camat Dalam Meningkatkan prodiktivitas Kerja Pegawai Kecamatan Ibele. Kabupaten Wamena Provinsi Papua”.
B. Masalah Pokok Skripsi.
Bertolak dari latar belakang tersebut terlihat bahwa dalam upaya meningkatkan gairah kerja, proses pemberian kepemimpinan camat dalam meningkatkan kerja pegawai , yang menyangkut berbagai tugas fungsi dan tanggungjawab pemimpin yang sangat luas sehingga untuk dapat ,membahas dan menganalisa secara tuntas dan menyeluruh akan memerlukan kemampuan ilmu pengetahuan dan pengalaman yang luas pula. penulis menguraikan secara panjang lebar mengenai latar belakang permasalahan diatas dalam variabel peranan kepemimpinan camat dalam  peningkatkan kerja pegawai yang di harapkan oleh kantor kecamatan ibele dilihat dari fungsi instruktif, fungsi konsultatif, fungsi partisipasi, fungsi delegasi, dan fungsi pengendalian . Sedangkan untuk variabel kerja pegawai penulis mengendalisa pada unsur kualitas kerja dan kuantitas pekerjaan dan ketepatan waktu, jika hasil kerja pun mencapai tujua hasil penelitian di lapangan efektif
Dengan demikian penulis diharapan agar pembahasan skripsi dapat lebih terarah sesuai dengan topik penelitian yang diarahkan untuk mempermudah pembahasan yang menguraikan pada bab-bab selanjutnya, maka masalah-masalah yang penulis pilih untuk diketengahkan dalam pembahasannya, adalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana peranan kepemimpinan camat dalam memberikan pembinaan pegawai kepada bawahan, serta proses pembinaan karier pegawai dilingkungan kecamatan ibele
2.      Sejauh manakah pengaruh kepemimpinan yang dilaksanakan oleh para pembinaan   kemampuan  kinerja pegawaian dilingkungan kecamatan ibele, sebagai bawahannya sehingga prestasi kerja bawahan lebih meningkat.
3.       Faktor apa saja yang menghambat atau masalah - masalah yang dihadapi dalam upaya melaksanakan pemberian pembinaan dari pemimpin terhadap  Produktivitas Kerja pegawai kepada pegawai, sebagai pelaksanaan kepemimpinan dan upaya yang ditempuh untuk menanggulangi hambatan hambatan tersebut.


C. Hipotesa
Hipotesa adalah suatu anggapan dasar dari pada suatu argumentasi suatu masalah yang dianggap benar untuk sementara, sedang untuk membuktikan kebenaran yang sesungguhnya dari argumen tersebut masih harus dibuktikan melalui uraian selanjutnya dan kaitannya dengan hipotesa ini adalah sbb:
1.      Apabila fungsi kepemimpinan dilingkungan biro Kepegawaian kecamatan ibele diterapkan menurut, karena ketentuan yang berlaku maka dimungkinkan peranan pipmpinan yang diharapkan dapat menunjang pada pencapaian tujuan, dalam hal ini adalah kelancaran dalam proses peningkatan karier Pegawai yang menguntungkan bagi organisasi dan pegawainya.
2.      Apabila fungsi kepemimpinan diterapkan dengan sungguh sungguh bagi terlaksananya pembinaan camat terhadap kerja Pegawai yang mengarah pada peningkatan kariernya menurut kebijaksanaan yang terarah, diharapkan pengaruh pimpinan yang bersangkutan akan besar sekali  manfaatnya bagi peningkatan semangat dan mutu kerja Pegawainya, sehingga para Pegawai kecamatan ibele  yang berkepentingan lebih bertanggung jawab akan tugas dan kewajibannya.
3.       Apabila segenap pimpinan yang turut bertanggung jawab terhadap pembinaan camat terhadap Produktivitas Kerja Pegawai memberikan perhatian sepenuhnya akan fungsinya dalam memimpin bawahan dengan penuh bijaksana, komunikatif persuasi dan fleksibel maka diharapkan akan dapat mempersempit timbulnya permasalahan yang mungkin dapat terjadi sebagai faktor penghambat dalam pencapaian tujuan. Adapun faktor lain yang perlu diperhatiakn adalah tersediannya sarana dan prasarana dalam pembinaan Produktivitas Kerja Pegawai kecamatan Ibele .
Inilah rangkuman hipotesa dalam skripsi yang penulis buat, hipotesa ini ada terlihat  dalam gambaran pada penjabaran Bab IV dan Bab V dalam skripsi ini.
D.Tujuan Penelitian
        Penelitian ini memiliki tujuan antara lain:
a.       Untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang pelaksanaan Pembinaan produktivitas kerja Pegawai oleh pimpinan di  lingkungan kecamatan ibeleh terutama bagi peningkatan  produktivitas kerja Pegawai.
b.       Untuk menganalisa sejauh mana pengaruh kepemimpinan terhadap peningkatan karier kepemimpinan sehingga bermanfaat bagi peningkatan kuantitas dan kualitas kerja yang lebih menguntungkan.
c.        Untuk mengindetifikasi faktor-faktor penghambat yang dihadapi dalam upaya    melaksanakan kepemimpinan untuk meningkatkan prestasi produktivitas kerja Pegawai Kecamatan Ibele dan bagaimana usaha pencegahannya, sehingga dapat dipergunakan untuk menentukan arah, tujuan dan langkah-langkah apa saja yang ditempuh dalam rangka menanggulangi hambatan yang dihadapi.
E. Metode penelitian
Metode penelitia yang digunakan adalah metode deskriptifg analisis yaitu menggambarkan dan mengguraikan kejadian yang sedang terjadi berdsarkan data yang berhasil dikumpulkan, kemudian dianalisa untuk mendapatkan kesimpulan.
               Adapun tehnik pengumpulan data penulis gunakan adalah sbb:
1.    Studi kepustakaan,  yaitu cara memperoleh data  dengan mempelajari buku-buku kepustakaan, catatan surat kabar dan peraturan perundangan yang ada hubungannnya dengan masalah yang  sedang dibahas.   
2.    Studi lapangan yaitu cara memperoleh data dengan melaksanakan  penelitian secara  langsung pada objek yang sedang diteliti dengan cara:
a.    Observasi, yaitu cara memperoleh data dengan jalan mengadakan pengamatan langsung terhadapat pelayanan proses Pembinaan peranan kepemimpinan camat dalam rangka peningkatan produktivitas kerja Pegawai  yang dilaksanakan oleh pimpinan atau pegawai, untuk melihat dan mencatat kejadian-kejadian tentang hal-hal yang berhubungan dengan bahan bahan yang dibutuhkan  
b.      Wawancara, yaitu cara memperoleh data dengan mengadakan tanya jawab dengan  kepada camat, dengan staf pelaksana dan segenap Pegawai  yang dianggap dapat memberi keterangan atau informasi yang dibutuhkan hasil produktivitas kerja pegawai yang perstasi telah tercapai tujuan yang efektif.
F. Pembabakan Penelitian.
Dengan tujuan untuk memperjelas batasan-batasan yang diuraikan dalam skripsi ini secara keseluruhan,maka secara kronologis dan sistematis batasan dalam skripsi ini penulis bagi dalam bab dan sub bab, masing masing bab dan sub bab saling berkaitan serta saling isi mengisi sehingga secara keseluruhan akan merupakan suatu karangan ilmiah yang dapat dimengerti dan diterima oleh para pembaca.
Secara lengkapnya uraian yang akan penulis sajikan dalam skripsi ini adalah sbb:
1.      Bab I, adalah merupakan bab pendahuluan yang terdiri atas uraian awal secara  kronologis penulis bagi menjadi 6 sub bab masing masing adalah:
a.         menguraikan latar belakang perrmasalahan penulisan skripsi.
b.        Menguraikan masalah pokok skripsi yang menjdi batasan skripsi.
c.         Menguraikan tentang anggapan dasar sementara yang dianggap benar sebagai pemecahan masalah berupa hipotesa.
d.        Menguraikan tujuan penelitian dilaksanakan dalam rangka pembahasan skripsi ini
e.         Menguraikan metode penelitian yang dilaksanakan dalam rangka memperoleh data dan informasi.
f.         Menguraikan pembabakan skripsi yang menulis pergunakan untuk menjelaskan urut-urutan pembahasan skripsi ini.

2.    Bab II adalah bab yang berisi uraian tentang teori-teori dari kepemimpinan,camat antara produktivitas kerja Pegawai dan , pengertian dan syarat kepemimpinan serta prinsip dan fungsi kepemimpinan.
3.    Bab III berisi tentang tinjauan oraganisasi peranan kepemimpinan camat dari kedudukan,tugas pokok dan fungsinya,struktur organisasi, tata kerja serta hubungan internal dan eksternal di Wilayah Kecamatan Ibele
4.    Bab IV menguraikan tentng pelaksanaan pemberian Pembinaan Pegawaidalam upaya meningkatkan gairah kerja dan disiplin Pegawai berupa,pelaksanaan kepemimpinan,pengaruh Pembinaan Pegawai serta faktor penghambat Pembinaan Pegawai dan usaha penanggulangannya.
5. Bab V berupa bab tentang kesimpulan dan saran-saran.

BAB II
LANDASAN TEORITIS

    1. Pengertian Kepemimpinan
Menurut Armstrong (1999:90) kepemimpinan adalah sesuatu mengenai mendorong dan membangkitkan individu dan kelompok untuk berusaha sebaik  baiknya untuk mencapai hasil yang diinginkan. Semua manajer berdasarkan adalah pemimpin dalam arti bahwa mereka hanya melakukan apa yang harus mereka lakukan dengan dukungan kelompok mereka, yang harus diberi inspirasi dan dipersuasi untuk mengikuti mereka. Kepemimpinan diperlukan karena seseorang harus menunjukkan jalan dan bahwa orang yang sama harus memastikan bahwa setiap orang yang berkepentingan mewujudkan tujuan yang tercapai.[1]
Penulis disimpulakan teori diatas ini;
Kemampuan mempengaruhi sikap orang lain, apakah dia pegawai bawahan, rekan sekerja atau atasan.Adanya pengikut yang dapat dipengaruhi, baik oleh ajakan, anjuran, bujukan, sugesti, pemerintah, saran atau bentuk lainnya. Adanya tujuan yang hendak dicapai

 Menurut  Kartini  Kartono (2006:38)  pemimpin  adalah  seorang  pripadi  yang  memiliki  kebaikan  dan  kelebihan  khususnya di suatu bidang  sihingga  ia  mampu   menpengaruhi  orang-orang  lain  untuk  bersama-sama  melakukan  aktivitas-aktivitas  tertentu, demi  pencapaian  satu  atau beberapa  tujuan kepemimpinan efektif adalah kegiatan mempengaruhi orang - orang agar mereka suka berusaha mencapai tujuan–tujuan kelompok mempengaruhi orang – orang agar mau bekerja sama untuk mencapai tujan yang diinginkannya[2].
Pendapat Menuruut Triantoro Safari, (2004:10)
kepemimpinan merupakan salah satu fenomena yang mudah dan diobservasi, tetapi menjadi salah satu hal yang paling sulit untuk dipahami.[3]
Menurut Ermaya Suradinata (1997:41) kepemimpinan merupakan bakat dan seni dalam proses memimpin. Mempunyai bakat pemimpin berarti juga menguasai seni atau teknik melaksanakan kegiatan – kegiatan seperti teknik untuk memberikan perintah, memberikan peringatan, memberikan anjuran, memberikan pengertian, memberikan saran, memberikan motivasi, memperoleh saran, memberikan identitas kelompok, menyesuaikan diri, menanamkan rasa disiplin, sikap tingkah laku keteladanan, membasmi desas – desus dengan membeberkan fakta yang benar, memberikan arahan, mengakui salah dan bertanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan dan sebagainya modal  dasar  kepemimpinan dari, seseorang  adalah  pripadi  yang  mempunyai  kemampuan,  ketrampilan, kecakapan  dan  daya  kreatif  serta  mempunyai daya kreatif  serta mempunyai  imajinasi  yang  lebih  dibandingkan  dengan stafnya,  mempunyai  unggulan  kemampuan  tertentu  sehingga  dapat  mempengaruhi  orang  lain  agar  orang  itu  mau  mengikuti  daan  melakukan apa  yang  menjadi aharapan  pemimpin  dalam  rangka  melaksanakan  tujuan organisasi  atau  perusahaan[4]
  Menurut  Sutarto  (2006:25) definisi
kepemimpiana merupakan rangkaian  penataan  berupa  kemampuan  mempengaruhi  perilaku  orang  lain  dalam  situasi tertentu agar  bersedia  pekerja  sama  untuk  mencapai  tujuan  yang  telah  ditetapkan.[5]

    Menurut Hadari Nawawi dan M. Martini Hadari (2006:11) kepemimpinan  diartikan  sebagai proses pemberian motivasi agar orang-orang  yang dipimpin  melakukan  kegiatan atau pekerjaan sesuai  dengan  program  yang  ada  telah  ditetapkan  dan  kepemimpinan  juga  mengarahkan,  membimbing, mempengaruhi orang  lain,  agar  pikiran dan  kegiatannya  tidak  menyimbang dari tugas  pokok  unit atau  bidangnya  masing-masing.[6]
Menurut penulis
Kepemimpian merupakan gambamnran dan seorang individu berusaha mempengaruhi perilaku lainnya dalam suatu kelompok tanpa menggunakan bentuk paksaan melalui kordinasi dan komunikas secara efesien dan efektif dalam mempengaruhi dan periterasksi pelalui perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pertanggungjawabkan melalui pengembangan  organisasi adalah: (a) Menciptakan visi dan misi; (b) Mengembangkan budaya organisasi; (c) Menciptakan sinergi; (d) Memberdayakan pengikut; (e) Menciptakan perubahan; (f) Memberi motivasi pengikut; (g) Mewakili sistem sosial; dan (h) Membelajarkan organisas secara global..

Menurut Pamudji (1998: 6) kepemimpinan adalah
kemampuan individu tentang bagaimana caranya agar bisa diterima dengan baik dan pengaturan terhadap pengikut, mengandalkan kewibawaan yang berlandaskan pada kepercayaan pengikut, berperan sebagai pencetus ide-ide, pengarah, serta koordinat. Hal ini sejalan dengan rumusan kepemimpinan merupakan kemampuan seseorang dalam mempengaruhi orang lain agar orang tersebut mau menjalankan apa yang dikehendakinya.


    2. Pengertian kecamatan
Menurut Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 kecamatan adalah wilayah kerja camat sebagai perangkat daerah kabupaten dan daerah kota. Berdasarkan hal tersebut dituntut adanya seorang camat yang benar-benar berjiwa pemimpin dan mengerti situasi dan kondisi, wilayah, bersifat mengayomi, serta mengerti akan kemauan anak buahnya.
       Menurut Suradinata (1997:94)
seorang camat selaku pimpinan pemerintahan juga harus mempunyai jiwa kebapakan. Pendapat tersebut mengandung arti bahwa seorang camat mampu memberikan pandangan pada masyarakat tentang masalah yang harus diselesaikan dengan adil sebagai seorang pimpinan rumah tangga yang besar, sehingga keputusannya bisa diterima oleh pihak-pihak yang bersangkutan.

       Menurut Haryati, (2008: 114)
 tentang Kecamatan berarti mencakup tiga lingkungan kerja yaitu: (a) Kecamatan dalam arti kantor Camat; (b)Kecamatan dalam arti wilayah, dalam arti seorang Camat sebagai kepalanya;( c) Camat sebagai bapak "Pengetua Wilayahnya".

Kecamatan adalah sebuah pembagian administratif negara Indonesia di bawah Daerah Tingkat II. Sebuah kecamatan dipimpin oleh seorang camat dan dipecah kepada beberapa kelurahan dan desa-desa. Dalam bahasa Inggris kata kecamatan seringkali diterjemahkan kepada sub-distrik, meskipun tidak sedikit pula dokumen pemerintah Indonesia menerjemahkannya sebagai Daerah (distrik), ini karena kabupaten sebagai pembagian administratif negara Indonesia di bawah provinsi diterjemahkan sebagai regency. Provinsi Papua dan provinsi Papua Barat telah secara resmi mengganti penyebutan kecamatan menjadi distrik, sehingga jelaslah penerjemahan yang lebih sesuai dari kecamatan ke dalam bahasa Inggris adalah distrik. [7]
Berdasarkan pasal 1 ayat 5,  PP No. 19 Tahun 2008 tentang Kecamatan, maka pengertian Kecamatan didefinisikan sebagai berikut :
(1)          Kecamatan merupakan perangkat daerah Kabupaten/Kota sebagai pelaksana teknis kewilayahan yang mempunyai wilaya kerja tertentu dan di pimpin oleh Camat.
(2)          Camat kedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada bupati/wali   kota melalui sekretaris daerah. [8]
 Sedangkan pengertian Camat berdasarkan pasal 1 ayat 9  PP No. 19 Tahun 2008 tentang kecamatan adalah sebagai  kecamatan seorang Camat atau sebutan lain adalah pimpinan dan kordinator penyelenggaraan pemerintahan di wilayah kerja Kecamatan dan dalam paelaksanaan tugasnya memperoleh pelimpahan kewenangan pemerintahan dari Bupati/Walikota untuk menangani sebagian urusan otonomi daerah, dan menyelenggarakan tugsas umum pemerintaha,   Sedangangkan  tugas dan wewenang Camat berdasarkan PP No. 19 Tahun 2008 antara lain adalah sebagai berikut : Pasal 15
(1)  Camat menyelenggarakan tugas umum pemerintah meliputi :
a.    Mengoordinasikan kegiatan pemberdayaan masyarakat ;
b.    Mengoordinasikan upaya penyelenggaraan ketenteraman dan ketertiban umum;
c.    Mengoordinasi penerapan dan penegakan peraturan perundan-undangan ;
d.   Mengoordinasi pemeliharaan prasarana dan fasilitas pelayanan umum;
e.    Mengoordinasi penyelenggaraan kegiatan pemerintahan di tingkat  kecamatan ;
f.     Membina penyelenggaraan pemerintahan desa dan/kelurahan; dan
g.    Melaksanakan pelayanan masyarakat yang menjadi runang lingkup tugasnya dan/yang belum dapat di laksanakan pemerintahan desa atau kelurahan
(2)          selain tugas sebagaimana di maksud  pada ayat (1) Camat melaksanakan kewenangan pemerintahan yang di hadapkan oleh bupati atau walikota untuk menangani sebagian urusan otonomi daerah, yang meliputi  aspek: (a)Perizinan (b). Rekomendasi( c).Koordinasi (d).Pembinaan  (d).Pengawasan (e). Fasilitas (f). Penetapan  (g). Penyelenggaraan;  (h).Kewenangan lain yang di limpahkan .
(3)          Pelaksanaan kewenangan camat sebagaimana di maksud pada ayat (2)   mencakup penyelenggaraan urusan pemerintahan pada lingkungan kecamatan sesuai peraturan perundang-undangan. pelimpahan sebagian wewenang bupati/walikota kepada Camat sebagai mana di maksud pada ayat (2) di lakukan berdasarkan kriteria eksternalitas dan efisiensi. Menurut  PP. Nomor 41 Tahun 2007, tugas camat meliputi:
  1. mengoordinasikan kegiatan pemberdayaan masyarakat,
  2. mengoordinasikan upaya penyelenggaraan ketenteraman dan ketertiban umum,
  3. mengoordinasikan penerapan dan penegakan peraturan perundang-undangan,
  4. mengoordinasikan pemeliharaan prasarana dan fasilitas pelayanan umum,
  5. mengoordinasikan penyelenggaraan kegiatan pemerintahan ditingkat kecamatan,
  6. membina penyelenggaraan pemerintahan desa dan/atau kelurahan,
  7. melaksanakan pelayanan masyarakat yang menjadi ruang lingkup tugasnya  dan/atau yang belum dapat dilaksanakan pemerintahan desa atau kelurahan,” jawab Pak Camat.

B.Teori  produktivitas  kerja pegawai
   a. pengertian produktivitas
produktivitas berasal dari bahasa inggris product yang perkembangan menjadi productive berati menghasilkan. Perkataan itu digunakan dalam bahasa indonesia menjedi froduktivitas berati kemampuan menghasilkan sesuatu oleh karena itu didalam organisai kerja yang akan dihasilkan adalah perwujudan tujuannya, maka produktivitas berhubungan dengan sesuatu yang persipat matrial maupun non matrial, yang dapat maupun yang tidak dapat dinilai dengan uang. Dengan kata lain produktivitas yang digambarkan melalui tingkatan dalam pencapaian tujuan organisasi kerja, diantaranya tidak dapat dihitungkan secara eksak, karena hasilnya bersifat non material dan tidak dapat dihitung dengan uang.[9]
Menurut j. Ravianto, (1998:129) produktivitas  adalah
pengukuran untuk mengetahui sejaumana sumber daya yang digunakan bersama dengan organisasi untuk menyelesaikan suatu kumpulan hasil-hasil yang dapat dicapai, sehingga produktifitas merupakan ukuran sampai seberapa baik   penggunaan sumberdaya untuk mencapai hasil kerja yang di inginkan. Berhubungan dengan efektivitas dalam mencapai prestasi kerja, sedangan sumber daya yang digunakan berhubungan dengan efesiensi dalam mendapatkan hasil dengan cara mengunakan sumberdaya seminimal mungkin. [10]

Menurut yadianto, 1992. dalam kamus bahasa indonesia “produktifitas adalah kemampuan untuk meningkatkan sesuatu, daya produksi melalui tenaga manusia dan sumber daya manusia memegang peranan utama dalam proses peningkatan produksi karena baik tenaga kerja, alat produksi maupun teknologi yang digunakan dalam peningkatkan produktifitas tersebut pada hakekatnya adalah hasil karya manusia.[11]
Menurut bambang kusriyanto, 1991:2.
produktivitas kerja adalah perbandingan dengan hasil yang tercapai peran serta tenaga kerja pesatuan waktu (lasimnya perjam  dan perorang untuk meningkatakan hasik kerja yang baik dalam meningkatkan produktivitas kerja pegawai.[12]

    b. Pengetian Kerja 
Kartini Kartono (2006:19) mengatakan kerja merupakan aktivitas dasar dan bagian esensial dari kehidupan manusia. Sama dengan kegiatan permainan bagi anak-anak, maka kerja memberikan kesenangan dan arti tersendiri dari kehidupan manusia,sebab kerja itu memberikan status kepada seseorang, dan mengikatkan diri sendiri dengan individu-individu lain dalam masyarakat.[13]
Menurut Panji Anoraga (1998:17) ketenangan dan kegairahan kerja pegawai dipengaruhi oleh dua faktor yaitu (1) faktor kepribadian dan kehidupan emosional pegawai itu sendiri. (2) faktor luar terdiri dari faktor lingkungan rumah, keluarga dan lingkungan kerjanya. Kerja merupakan aktivitas sosial yang memberikan bobot dan isi kepada kehidupan.[14]
Hersey  dalam Wibowo, 2007:76-80)
menjelaskan, kerja ditentukan oleh tujuan yang hendak dicapai dan untuk melakukannya diperlukan adanya motif. Tanpa dorongan motif untuk mencapai tujuan, kerja tidak akan berjalan. Dengan demikian, tujuan dan motif menjadi indikator utama dari kerja.Namun, kerja memerlukan adanya dukungan lain yaitu: sarana, kompetensi, peluang, standar, dan umpan balik[15]

    2. Pengertian Pegawai
Menurut  Ermaya (2000:10,14,15), yang medefinisikan pegawai adalah manusia atau orang yang melaksanakan suatu pekerjaan pada suatu organisasi, baik pemerintah maupu swasta, dan karena jasa dan pekerjaan itu, maka mereka memperoleh upah atau gaji.  Lebih lanjut Ermaya menambahkan bahwa dalam kenyataan sehari-hari seseorang akan  melakukan suatu kerjaapabila terdorong  oleh suatu  tujuan untuk  memperoleh  hasil  yang dapat memenuhi kebutuhan pribadinya.[16]
Menurut Soedardjat (2000:108),
 pegawai adalah manusia yang sedang melakukan aktivitas atau kegiatan akan dituntut kreaktivitasnya, dan setiap pegawai atau pejabat harus memiliki 4 CT: cepat tanggap,cepat temu, cepat tindak,dan cepat tuntas.[17]




[1] Armstrong, Michael. 1999. Manajemen Sumber Daya Manusia Stratejik, alih bahasa: Cahayani. Gramedia Pustaka. Jakarta
[2] Kartono kartini 2006 pemimpin dan kepemimpinan, PT. Raja grafindo persada, jakarta
[3] Safari,   Triantoro. 2004. Masalah – Masalah Kepemimpinan.   Jakarta   : PT. Gramedia
[4]  Ermaya Suradinata Ermaya, 1997. Pemimpin dan Kepemimpinan Pemerintahan    (Pendekata  Budaya Moral, dan Etika), Jakarta: Gramedia  Pustaka   Utama.
[5] Sutarto, 2006. Dasar-Dasar  Kepemimpinan  Administrasi, Yogyakarta:  Gajah Mada  University Press.
[6] Hadari Nawawi dan M Martini Hadari, 2006. Kepemimpinan yang efektif    Yogyakarta: Gajah   Mada University  Press.
[7] Haryati, Sr, Setiajeng, Tedi Sudrajat.2008, Hukum Kepegawaian, Penerbit Obor. Jakarta
[8] Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2008  tentang Kecamatan .idp. 8
[9] I pd p.9
[10] j.ravianto, produktivitas dan tenaga kerja indonesia, lembaga SIUP, jakarta, 1998. Hal 129).
[11] judianto kamus umum bahasa indonesia, penerbit M 2 S, bandung 1992.)
[12] Bambang Kusriyanto meningkatkan produktivitas seri manajemen no. Lembaga pendidikan dan pengembagan manajemen : jakarta 1991. Hal 2
[13] Kartini Kartono Kepemimpinan dan Prilaku Organisasi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 2006. P.19
[14]Panji Anoraga. Dinamika Koperasi Bandung: Penerbit Rineka Cipta.1998. p.17
[15]Hersey  dalamWibowo, Manajemen Kinerja :PT Rajg Grafindo Persadap,2007: p.76-80.
[16] Ermaya manajemen pemerintahan. jakarta: PT. vidcodata.  2000.p.10,14,15.
[17] Soedarjat 1993. Kapita Selekta Manajemen Dan Kepemimpinan Serta Imlementasinya.Jakarta : Ind Hill Co.

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking