PERAN KEPEMIMPINAN CAMAT
kepemimpinan
camat adalah kemampuan individu tentang bagaimana caranya agar bisa diterima
dengan baik dan pengaturan terhadap pengikut, mengandalkan kewibawaan yang
berlandaskan pada kepercayaan pengikut, berperan sebagai pencetus ide-ide,
pengarah, serta koordinasi dimana kumpulan-kumpulan secara bersan. hal ini
sejalan dengan rumusan, kepemimpinan merupakan kemampuan seseorang dalam
mempengaruhi orang lain agar orang tersebut mau menjalankan apa yang
dikehendakinya.
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Dalam berbagai
literatur diketahui bahwa
peranan kepemimpinan di distrik Ibeleh sebenarnya sudah
banyak yang mengalami
perubahan yang cukup
berarti sejak masa
orde baru sampai
sekarang, Namun pada
akhir-akhir ini perkembangannya ternyata
mengalami stagnasi dan
cenderung kembali kepada
peranan kepemimpinan di
masa orde baru
dikarenakan situasi dan
kondisi yang berkembang
di masyarakat saat
ini. Untuk menghindari
komplikasi
yang
terjadi,
maka peranan kepemimpinan camat
berubah
ke arah
dalam atau lebih
tepat
lagi
ke
arah
yang
lebih
proteksi
diri
daripada
peranan kepemimpinan
yang
keluar
atau
terbuka.
Perubahan-perubahan
peranan
kepemimpinan
yang demikian
itu menarik
untuk dikaji
lebih
lanjut
sehingga
pada akhirnya
hasilnya dapat
dibuat
suatu
organisasi kepemimpinan camat
yang mampu mencari
problem solving (sebagai
inti dari kepemimpinan
itu sendiri) dan
sekaligus menjawab tantangan
berbagai persoalan.
Seorang
pemimpin di dalam
melaksanakan kepemimpinan haruslah
memiliki kriteria-kriteria yang
diharapkan, dalam arti
seorang pemimpin harus
memiliki kriteria yang
lebih dari pada
bawahannya misalnya jujur,
adil, bertanggung jawab,
loyal, energik, dan
beberapa kriteria-kriteria lainnya.
Kepemimpinan
merupakan sebuah
hubungan
yang kompleks,
oleh
karena
berhadapan
dengan
kondisi-kondisi
ekonomi, nilai-nilai
sosial
budaya dan pertimbangan
politis.
Bennis
dalam Kartono,
(1999: 75)
memberi batasan
kepemimpinan
sebagai “ the
process by which an
agent
induces
a subordinate to
behave
in
a desired
manner” (proses yang
digunakan
seorang pejabat
menggerakkan
bawahannya
untuk
berlaku
sesuai dengan
cara
yang
diharapkan).
Dari
definisi di atas
dapat dinyatakan bahwa
kepemimpinan adalah merupakan
proses mempengaruhi atau
menggerakkan bawahan (followers)
agar mau melaksanakan
apa yang diinginkan
atau diharapkan oleh
pimpinan tersebut. Oleh
karena pentingnya peranan
kepemimpinan di dalam
kehidupan organisasional, ada
pakar yang menyebut
bahwa “Leadership is
getting things done
by the others”.
Kepemimpinan adalah
suatu proses dimana
pimpinan/pemimpin dapat mempengaruhi
bawahannya/orang lain, agar
bawahan/orang lain tersebut
mau melakukan apa
yang diinginkan oleh
pimpinan/pemimpin tersebut. Peranan kepemimpinan camat adalah
cara yang digunakan
pimpinan/pemimpin dalam mempengaruhi
bawahan/orang lain, agar
tercapai apa yang
diinginkannya. Kemampuan
hasil kerja kecamatan yang
nyata diperoleh oleh
tenaga kerja yang
didasari sikap mental
yang patriotik yang
menganggap bahwa hari
ini harus lebih
baik dari hari
kemarin dan hari
esok harus lebih
baik dari hari
ini. Cara-cara kerja hari
ini harus lebih
baik dari cara-cara
kerja kemarin, dan
cara-cara kerja hari
esok harus lebih
baik dari cara-cara
kerja hari ini.
maka meningkatkan Produktivitas
kerja, kepemimpinan situasional
adalah gaya yang
paling sesuai diterapkan
seorang pemimpin/pimpinan saat
ini, mengingat bahwa
penerapan gaya ini
disesuaikan dengan tingkat
kematangan bawahan/pengikut. Hal
ini didasari asumsi
bahwa setiap bawahan/orang
lain akan memiliki
tingkat kematangan yang
berbeda satu sama
lain.
Namun
permasalahan kinerja pemerintahan kecamatan ini menjadi
dasar acuan bagi
pemimpin, lalu bagaimana
kepemimpinan tersebut dapat
memenuhi keinginan masyarakat
untuk memperoleh kinerja
pemimpin yang baik, dengan
dukungan para pegawai
yang merupakan bagian
penting dalam pencapaian
penyelengkaraan kinerja suatu
organisasi kecamatan yang sukses, seperti pendapat
Keith Davis (1997: 205) kepemimpinan
adalah pola perilaku
dan strategi yang
disukai dan sering
diterapkan oleh seorang
pimpinan. Oleh sebab itu peranan Kepemimpinan juga
menunjukkan, secara langsung
maupun tidak langsung,
keyakinan seorang pimpinan
terhadap kemampuan bawahannya.
Jadi kepemimpinan adalah
perilaku dan strategi,
sebagai hasil kombinasi
dan falsafah, keterampilan,
sifat, sikap, yang
sering diterapkan seorang
pimpinan ketika ia
mencoba mempengaruhi kinerja
bawahannya.
Kepemimpinan pada
intinya merupakan proses
mempengaruhi orang lain dalam
mencapai tujuan yang
telah ditetapkan. Pengertian
ini menekankan pada
kalimat mempengaruhi orang
lain, yang didalamnya
mengandung unsur hubungan,
proses, dan kegiatan.
Untuk mencapai tujuan
bersama, seorang pemimpin
perlu menggunakan berbagai
cara. Cara-cara tersebut
biasanya diwujudkan dengan
memberi petunjuk, mengarahkan,
dan membina untuk
melakukan berbagai aktivitas
yang berhubungan dengan
tugas dan tanggung
jawabnya. Oleh karena
itu, seorang kepemimpinan dinyatakan
sebagai usaha mempengaruhi
orang lain untuk
mencapai tujuan kelompok.
Pemimpin atau manajer yang efektif tidak
hanya mempengaruhi bawahannya, tetapi ia juga mampu menjamin bawahannya
mencapai pelaksanaan kerjanya yang terbaik. Pendapat tersebut menunjukkan bahwa
keberhasilan seorang pemimpin dapat dilihat dari kemampuan untuk mempengaruhi
bawahannya untuk senantiasa mentaati apa yang menjadi harapan organisasi.
Kepemimpinan pada era globalisasi yang sarat dengan tantangan, persaingan dan
perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), jika pemimpin memiliki
keunggulan yang kompetitif dalam memimpin suatu organisasi. Pemimpin tersebut
tidak akan dapat menjalankan organisasinya secara efektif dan efisien, apabila
dalam penyelenggaraan tugas pemimpin mempunyai suatu keahlian. Penyelenggaraan
tugas pemimpin dapat mencapai hasil yang baik, apabila adanya peningkatan
kualitas profesionalisme pemimpin yang mampu Pemimpin unit organisasi mempunyai
peranan yang sangat strategis guna mengarahkan, membimbing dan mendorong
kinerja bawahan dalam pelaksanaan tugas yang telah digariskan oleh organisasi,
sehingga pelayanan pemimpin dapat dilaksanakan secara efektif, efisien dan
akuntabel. Hal tersebut dapat diwujudkan, apabila pada setiap pemimpin unit
organisasi menggunakan kepemimpinan yang efektif dan efisien
Dengan demikian Pelaksanaan tugas dan
fungsi tersebut, menjadi kewajiban pemimpin unit organisasi. Pemimpin unit
organisasi mempunyai peranan yang sangat strategis guna mengarahkan, membimbing
dan mendorong kinerja bawahan dalam pelaksanaan tugas yang telah digariskan
oleh organisasi kecamatan, sehingga pelayanan masyarakat dapat dilaksanakan
secara efektif, efisien dan akuntabel. Hal tersebut dapat diwujudkan, apabila
pada setiap pemimpin unit organisasi menggunakan kepemimpinan yang efektif dan
efisien.
Peranan Kepemimpinan menyangkut proses
mempengaruhi sosial dengan pengaruh yang disengaja digunakan oleh seseorang
terhadap orang lain untuk mengorganisir kegiatan–kegiatan dan hubungan–hubungan
dalam organisasi. Dalam kepemimpinan camat yang paling penting adalah
menginterpretasikan peristiwa-peristiwa, memetakan jalannya organisasi,
membangun kerja sama antar anggota
organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sekecil apapun
organisasi, peranan pemimpin sangat dominan dalam menciptakan, mengembangkan,
memelihara dan meningkatkan kerja sama baik vertikal, horizontal maupun
diagonal. Hal tersebut mempengaruhi
semua bawahan atau pengikut agar dapat memberikan pengabdian untuk mencapai
tujuan organisasi. Kesulitan oleh para
pemimpin untuk menjadi
agen perubahan bukan
terletak kepada cara
bagaimana memperoleh konsep
dan keterampilan pribadi
yang baru, namun
lebih disebabkan oleh
ketidak pedulian pemimpin
menghindarkan kebiasaan tidak
baik yang dimilikinya.
Mereka lebih menikmati
kekuasaan sebagai kepala
atau komandan yang
bisa memaksakan kemauan
sendiri, ketimbang memanfaatkan
peluang yang ada
untuk menggunakan wewenang
yang melekat itu
demi memuaskan kepentingan
umum, kepemimpinan yang
baik adalah pimpinan
yang memberikan perlindungan
baik internal maupun
eksternal, bila melihat
dan mencerna fungsi
kecamatan sebagai fungsi
pelayanan publik maka
pimpinan kecamatan tidak
hanya milik internal
(pegawai atau organisasi)
tapi camat sebagai
pimpinan wilayah adalah milik
semua pihak, bertugas
dan bertanggung jawab
atas nama pemerintah
untuk memberikan pelayanan,
namun sisi operasionalisasi tentunya
bukan tanpa hambatan,
salah satu hambatan
terbesar adalah bagaimana penciptaan lingkungan
yang bersih (Good Governance) dalam tata kelola pemerintahan daerah,
mengingat masyarakat sebagai
stackholder terus menerus dan
menghendaki wajah pemeintah kecamatan di
seluruh lapisan mejadi
bersih.
Kepemimpinan memegan peranan yang
penting dalam pencapaian tujuan organisasi,
Jika Kecamatan merupakan
wilayah kerja Camat sebagai perangkat daerah dipimpin Camat, yang berkedudukan
di bawah dan bertanggungjawab kepada Walikota melalui Sekretaris Daerah. Camat
mempunyai tugas dan fungsi melaksanakan sebagian urusan kewenangan pemerintah
daerah yang dilimpahkan oleh Walikota untuk menangani urusan otonomi daerah. Kecamatan mempunyai tugas menyelenggarakan pengelolaan penyusunan
perencanaan dan program, urusan keuangan, kepegawaian, umum dan
mengkoordinasikan secara teknis dan administratif pelaksanaan kegiatan
kecamatan serta pelaksanaan tugas lain yang diberikan tugas Camat
adalah Memimpin organisasi kecamatan,dan mengkoordinasikan
pelaksanaan tugas dan fungsi Kecamatan secara
keseluruhan Camat membina
mengarahkan mengkotrol, Kerja Pegawai Kantor Kecamatan maupun Kelurahan untuk
mencapai tujuan pemerintah telah ditentukan sebelumnya, pengelolan kecamatan
oleh camat dan kerja pegawai di kantor kecamatan Ibele sesuai aspirasi
masyarakat yang dinaikan kepada Camat maupun Kinerja Pagawai Kecamatan untuk
mencapai hadapan masyarakat kecamatan.
Sesuai denngan produktivitas
mengadung pengertian sikap mental maupun
kemampuan yang selalu mempunyai padangan, mutu kehidupan sehari ini lebih baik
dari kemarin dan hari esok serta lebih baik hari ini secara umum produktivitas
mengadung pengertian perbandingan terbaik antara hasil yang tercapai (output)
selalu sumber daya yang digunakan (input). Selain itu dapat dikatakan bahwa kinerja sebagai
suatu hasil atau output dari suatu
proses pelaksanaaan tugas akan berpengaruh terhadap produktivitas kerja yang memandai semakin baik kinerja
pagawai semakin produktif, atau produktivitas kerjanya semakin meningkat.
Jika produktivitas kerja atau kinerja
kecamatan Ibele merupakan suatu akibat dari persyaratan kerja yang harus
dipenuhi oleh pegawai untuk memberoleh hasil maksimal, dimana dalam
pelaksanaan produktivitas kerja terletak
pada faktor manusia sebagai pelaksana kegiatan pekerjaan sumber daya manusia
adalah unsur pendukung dan penujang pelaksanaan kegiatan yang terdiri atas
tenaga, dana, dan sarana parasarana,
Demikian kerja pegawai kecamatan merupakan aktivitas dasar dan bagian esensial dari
kehidupan manusia. Sama dengan kegiatan permainan bagi anak-anak, maka kerja
memberikan kesenangan dan arti tersendiri dari kehidupan manusia,sebab kerja
itu memberikan status kepada seseorang, dan mengikatkan diri sendiri dengan
individu-individu lain dalam masyarakat
Hersey dalam Wibowo, menjelaskan,kerja pegawai ditentukan oleh tujuan yang hendak dicapai dan untuk melakukannya
diperlukan adanya motif. Tanpa dorongan motif untuk mencapai tujuan, kerja
tidak akan berjalan. Dengan demikian, tujuan dan motif menjadi indikator utama
dari kerja.Namun, kualitas kerja dan kuantitas pekerjaan dan ketepatan waktu
memerlukan adanya dukungan lain yaitu: sarana, kompetensi, peluang, /standar, dan umpan balik, dan Kerja Pegawai Kecamatan menangani sesuai kewenagan yang terima atasan, untuk
mengurus, mengatur, mengarahkan, melayani dan mengabdi masyarakat mempunyai tugas dan fungsi melaksanakan sebagian mengurus urusan pemerintahan daerah di
dikecamatan Ibele, sesuai dengan tingkat kemampuan, hasil kerja yang telah
tercapai dalam pelaksanaan tugas dan pekerjaan yang dilimbahkan oleh camat
kepada Pegawai Kecamatan Ibeleh Kabupaten Wamena. Dalam
penyelenggaraan Pemerintahan kecematan, sangat ditentukan oleh sistem
organisasi kecamatan yang ada demi terciptanya tujuan penyelenggaraan
pemerintahan yang baik. Tujuan yang utama dari penyelenggaraan pegawai adalah terciptanya
kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Tujuan tersebut dapat diwujudkan
antara lain dengan cara peningkatan pelayanan kepada masyarakat.
Demikian pendapat
Soedardjat,mengatakan pegawai adalah manusia yang sedang melakukan aktivitas atau
kegiatan akan dituntut kreaktivitasnya, dan setiap pegawai atau pejabat harus
memiliki 4 CT: cepat tanggap,cepat temu, cepat tindak,dan cepat tuntas, oleh
sebab itu kerja pegawai kecamatan ibele melaksanakan tugas dan tanggungjawab
dalam urusan diwilayah kecamatan
melakukan suatu kerja apa bila terdorong
oleh suatu tujuan untuk memperoleh
hasil yang dapat tercapai.
Berdasarkan latar belakang diatas maka
Penulis Melakukan Penelitian dengan judul: “Peranan Kepemimpinan Camat Dalam Meningkatkan
prodiktivitas Kerja Pegawai Kecamatan Ibele. Kabupaten Wamena Provinsi Papua”.
B.
Masalah Pokok Skripsi.
Bertolak dari latar belakang tersebut
terlihat bahwa dalam upaya meningkatkan gairah kerja, proses pemberian
kepemimpinan camat dalam meningkatkan kerja pegawai , yang menyangkut berbagai tugas fungsi dan tanggungjawab pemimpin yang sangat luas
sehingga untuk dapat ,membahas dan menganalisa secara tuntas dan menyeluruh
akan memerlukan kemampuan ilmu pengetahuan dan pengalaman yang luas pula.
penulis menguraikan secara panjang lebar mengenai latar belakang permasalahan diatas dalam variabel peranan kepemimpinan
camat dalam peningkatkan kerja pegawai
yang di harapkan oleh kantor kecamatan ibele dilihat dari
fungsi instruktif, fungsi konsultatif, fungsi partisipasi, fungsi delegasi, dan
fungsi pengendalian . Sedangkan untuk variabel kerja pegawai penulis
mengendalisa pada unsur kualitas kerja dan
kuantitas pekerjaan dan ketepatan waktu, jika hasil kerja pun mencapai tujua hasil
penelitian di lapangan efektif
Dengan demikian penulis
diharapan agar pembahasan skripsi dapat lebih terarah sesuai dengan topik
penelitian yang diarahkan untuk mempermudah pembahasan yang menguraikan pada
bab-bab selanjutnya, maka masalah-masalah yang penulis pilih untuk
diketengahkan dalam pembahasannya, adalah sebagai berikut:
1.
Bagaimana peranan kepemimpinan camat dalam memberikan pembinaan pegawai
kepada bawahan, serta proses pembinaan
karier pegawai dilingkungan
kecamatan ibele
2.
Sejauh manakah pengaruh kepemimpinan yang dilaksanakan
oleh para pembinaan kemampuan
kinerja pegawaian dilingkungan kecamatan ibele, sebagai
bawahannya sehingga prestasi kerja bawahan lebih meningkat.
3.
Faktor apa saja
yang menghambat atau masalah -
masalah yang dihadapi dalam upaya melaksanakan pemberian pembinaan dari pemimpin terhadap Produktivitas Kerja pegawai kepada pegawai, sebagai pelaksanaan
kepemimpinan dan upaya yang
ditempuh untuk menanggulangi hambatan hambatan tersebut.
C.
Hipotesa
Hipotesa adalah suatu anggapan dasar dari pada suatu argumentasi
suatu masalah yang dianggap benar untuk sementara, sedang untuk membuktikan
kebenaran yang sesungguhnya dari argumen tersebut masih harus dibuktikan
melalui uraian selanjutnya dan kaitannya dengan hipotesa ini adalah sbb:
1. Apabila
fungsi kepemimpinan dilingkungan biro Kepegawaian kecamatan ibele diterapkan
menurut, karena ketentuan yang berlaku maka dimungkinkan peranan pipmpinan yang
diharapkan dapat menunjang
pada pencapaian tujuan, dalam hal ini adalah kelancaran dalam proses peningkatan
karier Pegawai yang menguntungkan
bagi organisasi dan pegawainya.
2.
Apabila fungsi kepemimpinan diterapkan dengan sungguh
sungguh bagi terlaksananya pembinaan camat terhadap kerja Pegawai
yang mengarah pada peningkatan kariernya menurut kebijaksanaan yang
terarah, diharapkan pengaruh pimpinan yang bersangkutan akan besar sekali manfaatnya bagi peningkatan semangat dan mutu
kerja Pegawainya, sehingga
para Pegawai kecamatan ibele yang berkepentingan lebih bertanggung jawab
akan tugas dan kewajibannya.
3. Apabila segenap pimpinan yang turut
bertanggung jawab terhadap pembinaan camat terhadap Produktivitas Kerja Pegawai memberikan
perhatian sepenuhnya akan fungsinya dalam memimpin bawahan dengan penuh
bijaksana, komunikatif persuasi dan fleksibel maka diharapkan akan dapat
mempersempit timbulnya permasalahan yang mungkin dapat terjadi sebagai faktor
penghambat dalam pencapaian tujuan. Adapun faktor lain yang perlu diperhatiakn
adalah tersediannya sarana dan
prasarana dalam pembinaan Produktivitas
Kerja Pegawai kecamatan Ibele .
Inilah
rangkuman hipotesa dalam skripsi yang penulis buat, hipotesa ini ada
terlihat dalam gambaran pada penjabaran
Bab IV dan Bab V dalam skripsi ini.
D.Tujuan Penelitian
Penelitian ini memiliki tujuan antara
lain:
a. Untuk
memperoleh gambaran yang jelas tentang pelaksanaan Pembinaan produktivitas kerja Pegawai oleh pimpinan di lingkungan kecamatan ibeleh terutama bagi peningkatan produktivitas kerja Pegawai.
b. Untuk menganalisa sejauh mana pengaruh
kepemimpinan terhadap peningkatan karier kepemimpinan
sehingga bermanfaat bagi peningkatan kuantitas dan kualitas kerja yang lebih
menguntungkan.
c. Untuk mengindetifikasi faktor-faktor
penghambat yang dihadapi dalam upaya melaksanakan kepemimpinan untuk meningkatkan prestasi produktivitas kerja
Pegawai Kecamatan Ibele dan bagaimana usaha pencegahannya,
sehingga dapat dipergunakan untuk menentukan arah, tujuan dan langkah-langkah
apa saja yang ditempuh dalam rangka menanggulangi hambatan yang dihadapi.
E.
Metode penelitian
Metode
penelitia yang digunakan adalah metode deskriptifg analisis yaitu menggambarkan
dan mengguraikan kejadian yang sedang terjadi berdsarkan data yang berhasil
dikumpulkan, kemudian dianalisa untuk mendapatkan kesimpulan.
Adapun
tehnik pengumpulan data penulis gunakan adalah sbb:
1. Studi
kepustakaan, yaitu cara memperoleh
data dengan mempelajari buku-buku kepustakaan, catatan surat kabar dan peraturan perundangan yang ada hubungannnya dengan
masalah yang sedang dibahas.
2. Studi
lapangan yaitu cara memperoleh data dengan melaksanakan penelitian secara langsung pada objek yang sedang diteliti dengan cara:
a.
Observasi,
yaitu cara memperoleh data dengan jalan mengadakan pengamatan langsung
terhadapat pelayanan proses Pembinaan peranan kepemimpinan camat dalam rangka peningkatan produktivitas kerja
Pegawai yang dilaksanakan oleh pimpinan atau pegawai, untuk melihat dan mencatat
kejadian-kejadian tentang hal-hal yang berhubungan dengan bahan bahan yang
dibutuhkan
b. Wawancara,
yaitu cara memperoleh data dengan mengadakan tanya jawab dengan kepada camat, dengan staf
pelaksana dan segenap Pegawai yang dianggap dapat memberi keterangan atau
informasi yang dibutuhkan hasil
produktivitas kerja pegawai yang perstasi telah tercapai tujuan yang efektif.
F.
Pembabakan Penelitian.
Dengan tujuan untuk memperjelas batasan-batasan yang diuraikan dalam
skripsi ini secara keseluruhan,maka secara kronologis dan sistematis batasan
dalam skripsi ini penulis bagi dalam bab dan sub bab, masing masing bab dan sub
bab saling berkaitan serta saling isi mengisi sehingga secara keseluruhan akan
merupakan suatu karangan ilmiah yang dapat dimengerti dan diterima oleh para
pembaca.
Secara lengkapnya uraian yang akan penulis sajikan dalam skripsi ini
adalah sbb:
1. Bab
I, adalah merupakan bab pendahuluan yang terdiri atas uraian awal secara kronologis penulis bagi menjadi 6 sub bab
masing masing adalah:
a.
menguraikan latar belakang perrmasalahan penulisan
skripsi.
b.
Menguraikan masalah pokok skripsi yang menjdi batasan
skripsi.
c.
Menguraikan
tentang anggapan dasar sementara yang dianggap benar sebagai pemecahan masalah
berupa hipotesa.
d.
Menguraikan
tujuan penelitian dilaksanakan dalam rangka pembahasan skripsi ini
e.
Menguraikan
metode penelitian yang dilaksanakan dalam rangka memperoleh data dan informasi.
f.
Menguraikan
pembabakan skripsi yang menulis pergunakan untuk menjelaskan urut-urutan
pembahasan skripsi ini.
2. Bab II adalah bab yang berisi uraian
tentang teori-teori dari kepemimpinan,camat antara produktivitas kerja Pegawai dan , pengertian dan syarat kepemimpinan serta prinsip dan fungsi
kepemimpinan.
3.
Bab III berisi tentang tinjauan oraganisasi peranan kepemimpinan camat dari
kedudukan,tugas pokok dan fungsinya,struktur organisasi, tata kerja
serta hubungan internal dan eksternal di Wilayah Kecamatan Ibele
4. Bab
IV menguraikan tentng pelaksanaan pemberian Pembinaan Pegawaidalam upaya
meningkatkan gairah kerja dan disiplin Pegawai berupa,pelaksanaan
kepemimpinan,pengaruh Pembinaan Pegawai serta
faktor penghambat Pembinaan Pegawai dan
usaha penanggulangannya.
5. Bab V berupa bab tentang
kesimpulan dan saran-saran.
LANDASAN TEORITIS
1.
Pengertian Kepemimpinan
Menurut
Armstrong (1999:90)
kepemimpinan adalah sesuatu mengenai mendorong dan membangkitkan individu dan
kelompok untuk berusaha sebaik baiknya
untuk mencapai hasil yang diinginkan. Semua manajer berdasarkan adalah pemimpin
dalam arti bahwa mereka hanya melakukan apa yang harus mereka lakukan dengan
dukungan kelompok mereka, yang harus diberi inspirasi dan dipersuasi untuk
mengikuti mereka. Kepemimpinan diperlukan karena seseorang harus menunjukkan
jalan dan bahwa orang yang sama harus memastikan bahwa setiap orang yang
berkepentingan mewujudkan tujuan yang tercapai.[1]
Penulis disimpulakan teori diatas ini;
Kemampuan mempengaruhi sikap orang lain,
apakah dia pegawai bawahan, rekan sekerja atau atasan.Adanya pengikut yang
dapat dipengaruhi, baik oleh ajakan, anjuran, bujukan, sugesti, pemerintah,
saran atau bentuk lainnya. Adanya tujuan yang hendak dicapai
Menurut Kartini Kartono (2006:38) pemimpin
adalah seorang pripadi
yang memiliki kebaikan
dan kelebihan khususnya di suatu bidang sihingga
ia mampu menpengaruhi
orang-orang lain untuk
bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu, demi pencapaian
satu atau beberapa tujuan kepemimpinan efektif adalah kegiatan mempengaruhi orang
- orang agar mereka suka berusaha mencapai tujuan–tujuan kelompok mempengaruhi
orang – orang agar mau bekerja sama untuk mencapai tujan yang diinginkannya[2].
Pendapat
Menuruut Triantoro
Safari, (2004:10)
kepemimpinan merupakan salah satu fenomena
yang mudah dan diobservasi, tetapi menjadi salah satu hal yang paling sulit
untuk dipahami.[3]
Menurut
Ermaya Suradinata (1997:41) kepemimpinan merupakan bakat dan seni dalam
proses memimpin. Mempunyai bakat pemimpin berarti juga menguasai seni atau
teknik melaksanakan kegiatan – kegiatan seperti teknik untuk memberikan
perintah, memberikan peringatan, memberikan anjuran, memberikan pengertian,
memberikan saran, memberikan motivasi, memperoleh saran, memberikan identitas
kelompok, menyesuaikan diri, menanamkan rasa disiplin, sikap tingkah laku
keteladanan, membasmi desas – desus dengan membeberkan fakta yang benar,
memberikan arahan, mengakui salah dan bertanggung jawab atas kesalahan yang
dilakukan dan sebagainya modal
dasar kepemimpinan dari,
seseorang adalah pripadi
yang mempunyai kemampuan,
ketrampilan, kecakapan dan daya
kreatif serta mempunyai daya kreatif serta mempunyai imajinasi
yang lebih dibandingkan
dengan stafnya, mempunyai unggulan
kemampuan tertentu sehingga
dapat mempengaruhi orang
lain agar orang
itu mau mengikuti
daan melakukan apa yang
menjadi aharapan pemimpin dalam
rangka melaksanakan tujuan organisasi atau
perusahaan[4]
Menurut Sutarto
(2006:25)
definisi
kepemimpiana
merupakan rangkaian penataan berupa
kemampuan mempengaruhi perilaku
orang lain dalam
situasi tertentu agar bersedia pekerja
sama untuk mencapai
tujuan yang telah
ditetapkan.[5]
Menurut Hadari Nawawi dan M.
Martini Hadari (2006:11) kepemimpinan diartikan sebagai proses pemberian motivasi agar
orang-orang yang dipimpin melakukan
kegiatan atau pekerjaan sesuai
dengan program yang
ada telah ditetapkan
dan kepemimpinan juga
mengarahkan, membimbing,
mempengaruhi orang lain, agar
pikiran dan kegiatannya tidak
menyimbang dari tugas pokok unit atau
bidangnya masing-masing.[6]
Menurut penulis
Kepemimpian merupakan gambamnran dan seorang individu berusaha mempengaruhi perilaku
lainnya dalam suatu kelompok tanpa menggunakan bentuk paksaan melalui kordinasi
dan komunikas secara efesien dan efektif dalam mempengaruhi dan periterasksi
pelalui perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pertanggungjawabkan melalui
pengembangan organisasi adalah: (a) Menciptakan visi dan misi; (b) Mengembangkan budaya organisasi; (c) Menciptakan sinergi; (d) Memberdayakan pengikut; (e) Menciptakan perubahan; (f) Memberi motivasi pengikut; (g) Mewakili sistem sosial; dan (h) Membelajarkan organisas secara global..
Menurut Pamudji (1998: 6)
kepemimpinan adalah
kemampuan individu
tentang bagaimana caranya agar bisa diterima dengan baik dan pengaturan
terhadap pengikut, mengandalkan kewibawaan yang berlandaskan pada kepercayaan
pengikut, berperan sebagai pencetus ide-ide, pengarah, serta koordinat. Hal ini
sejalan dengan rumusan kepemimpinan merupakan kemampuan seseorang dalam
mempengaruhi orang lain agar orang tersebut mau menjalankan apa yang
dikehendakinya.
2.
Pengertian kecamatan
Menurut Undang-Undang
Nomor 32 tahun 2004 kecamatan adalah wilayah kerja camat sebagai perangkat
daerah kabupaten dan daerah kota. Berdasarkan hal tersebut dituntut adanya
seorang camat yang benar-benar berjiwa pemimpin dan mengerti situasi dan kondisi,
wilayah, bersifat mengayomi, serta mengerti akan kemauan anak buahnya.
Menurut Suradinata
(1997:94)
seorang camat selaku
pimpinan pemerintahan juga harus mempunyai jiwa kebapakan. Pendapat tersebut
mengandung arti bahwa seorang camat mampu memberikan pandangan pada masyarakat
tentang masalah yang harus diselesaikan dengan adil sebagai seorang pimpinan
rumah tangga yang besar, sehingga keputusannya bisa diterima oleh pihak-pihak
yang bersangkutan.
Menurut Haryati, (2008: 114)
tentang Kecamatan berarti mencakup tiga lingkungan kerja yaitu: (a) Kecamatan dalam
arti kantor Camat; (b)Kecamatan dalam arti wilayah, dalam arti seorang Camat
sebagai kepalanya;( c) Camat sebagai bapak "Pengetua Wilayahnya".
Kecamatan adalah sebuah pembagian administratif negara Indonesia di
bawah Daerah Tingkat II. Sebuah kecamatan dipimpin oleh seorang camat dan
dipecah kepada beberapa kelurahan dan desa-desa. Dalam bahasa Inggris kata
kecamatan seringkali diterjemahkan kepada sub-distrik, meskipun tidak sedikit
pula dokumen pemerintah Indonesia menerjemahkannya sebagai Daerah (distrik), ini karena kabupaten sebagai
pembagian administratif negara Indonesia di bawah provinsi diterjemahkan
sebagai regency. Provinsi Papua dan provinsi Papua Barat telah secara resmi
mengganti penyebutan kecamatan menjadi distrik, sehingga jelaslah penerjemahan
yang lebih sesuai dari kecamatan ke dalam bahasa Inggris adalah distrik. [7]
Berdasarkan
pasal 1 ayat 5, PP No. 19 Tahun 2008 tentang Kecamatan, maka
pengertian Kecamatan didefinisikan sebagai berikut :
(1)
Kecamatan merupakan perangkat daerah Kabupaten/Kota
sebagai pelaksana teknis kewilayahan yang mempunyai wilaya kerja tertentu dan
di pimpin oleh Camat.
(2)
Camat kedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada
bupati/wali kota melalui sekretaris daerah. [8]
Sedangkan pengertian Camat berdasarkan pasal 1
ayat 9 PP No. 19 Tahun 2008 tentang kecamatan
adalah sebagai kecamatan seorang Camat atau sebutan
lain adalah pimpinan dan kordinator penyelenggaraan pemerintahan di wilayah
kerja Kecamatan dan dalam paelaksanaan tugasnya memperoleh pelimpahan
kewenangan pemerintahan dari Bupati/Walikota untuk menangani sebagian urusan
otonomi daerah, dan menyelenggarakan tugsas umum pemerintaha, Sedangangkan tugas dan wewenang Camat
berdasarkan PP No. 19 Tahun 2008 antara lain adalah sebagai berikut : Pasal 15
(1) Camat
menyelenggarakan tugas umum pemerintah meliputi :
a.
Mengoordinasikan kegiatan pemberdayaan masyarakat ;
b.
Mengoordinasikan upaya penyelenggaraan ketenteraman dan
ketertiban umum;
c.
Mengoordinasi penerapan dan penegakan peraturan
perundan-undangan ;
d.
Mengoordinasi pemeliharaan prasarana dan fasilitas
pelayanan umum;
e.
Mengoordinasi penyelenggaraan kegiatan pemerintahan di
tingkat kecamatan ;
f.
Membina penyelenggaraan pemerintahan desa
dan/kelurahan; dan
g. Melaksanakan
pelayanan masyarakat yang menjadi runang lingkup tugasnya dan/yang belum dapat di laksanakan pemerintahan desa atau
kelurahan
(2)
selain tugas sebagaimana di maksud pada
ayat (1) Camat melaksanakan kewenangan pemerintahan yang di hadapkan oleh
bupati atau walikota untuk menangani sebagian urusan otonomi daerah, yang
meliputi aspek: (a)Perizinan (b). Rekomendasi( c).Koordinasi (d).Pembinaan (d).Pengawasan
(e). Fasilitas (f). Penetapan (g). Penyelenggaraan;
(h).Kewenangan lain yang di limpahkan .
(3)
Pelaksanaan kewenangan camat sebagaimana di maksud pada
ayat (2) mencakup penyelenggaraan
urusan pemerintahan pada lingkungan kecamatan sesuai peraturan
perundang-undangan. pelimpahan sebagian wewenang bupati/walikota kepada Camat
sebagai mana di maksud pada ayat (2) di lakukan berdasarkan kriteria
eksternalitas dan efisiensi. Menurut PP. Nomor 41 Tahun 2007, tugas camat meliputi:
- mengoordinasikan kegiatan pemberdayaan
masyarakat,
- mengoordinasikan upaya penyelenggaraan
ketenteraman dan ketertiban umum,
- mengoordinasikan penerapan dan penegakan
peraturan perundang-undangan,
- mengoordinasikan pemeliharaan prasarana
dan fasilitas pelayanan umum,
- mengoordinasikan penyelenggaraan
kegiatan pemerintahan ditingkat kecamatan,
- membina penyelenggaraan pemerintahan
desa dan/atau kelurahan,
- melaksanakan pelayanan masyarakat yang
menjadi ruang lingkup tugasnya
dan/atau yang belum dapat dilaksanakan pemerintahan desa atau
kelurahan,” jawab Pak Camat.
B.Teori produktivitas
kerja
pegawai
a.
pengertian produktivitas
produktivitas
berasal dari bahasa inggris product
yang perkembangan menjadi productive
berati menghasilkan. Perkataan itu digunakan dalam bahasa indonesia menjedi
froduktivitas berati kemampuan menghasilkan sesuatu oleh karena itu didalam
organisai kerja yang akan dihasilkan adalah perwujudan tujuannya, maka
produktivitas berhubungan dengan sesuatu yang persipat matrial maupun non
matrial, yang dapat maupun yang tidak dapat dinilai dengan uang. Dengan kata
lain produktivitas yang digambarkan melalui tingkatan dalam pencapaian tujuan
organisasi kerja, diantaranya tidak dapat dihitungkan secara eksak, karena
hasilnya bersifat non material dan tidak dapat dihitung dengan uang.[9]
Menurut
j. Ravianto, (1998:129) produktivitas
adalah
pengukuran
untuk mengetahui sejaumana sumber daya yang digunakan bersama dengan organisasi
untuk menyelesaikan suatu kumpulan hasil-hasil yang dapat dicapai, sehingga
produktifitas merupakan ukuran sampai seberapa baik penggunaan sumberdaya untuk mencapai hasil
kerja yang di inginkan. Berhubungan dengan efektivitas dalam mencapai prestasi
kerja, sedangan sumber daya yang digunakan berhubungan dengan efesiensi dalam
mendapatkan hasil dengan cara mengunakan sumberdaya seminimal mungkin. [10]
Menurut
yadianto, 1992. dalam kamus bahasa indonesia “produktifitas
adalah kemampuan untuk meningkatkan sesuatu, daya produksi melalui tenaga
manusia dan sumber daya manusia memegang peranan utama dalam proses peningkatan
produksi karena baik tenaga kerja, alat produksi maupun teknologi yang
digunakan dalam peningkatkan produktifitas tersebut pada hakekatnya adalah
hasil karya manusia.[11]
Menurut bambang kusriyanto, 1991:2.
produktivitas kerja adalah perbandingan
dengan hasil yang tercapai peran serta tenaga kerja pesatuan waktu (lasimnya
perjam dan perorang untuk meningkatakan
hasik kerja yang baik dalam meningkatkan produktivitas kerja pegawai.[12]
b. Pengetian Kerja
Kartini
Kartono (2006:19) mengatakan kerja merupakan
aktivitas dasar dan bagian esensial dari kehidupan manusia. Sama dengan
kegiatan permainan bagi anak-anak, maka kerja memberikan kesenangan dan arti
tersendiri dari kehidupan manusia,sebab kerja itu memberikan status kepada
seseorang, dan mengikatkan diri sendiri dengan individu-individu lain dalam
masyarakat.[13]
Menurut Panji
Anoraga (1998:17) ketenangan dan kegairahan kerja
pegawai dipengaruhi oleh dua faktor yaitu (1) faktor kepribadian dan kehidupan
emosional pegawai itu sendiri. (2) faktor luar terdiri dari faktor lingkungan
rumah, keluarga dan lingkungan kerjanya. Kerja merupakan aktivitas sosial yang
memberikan bobot dan isi kepada kehidupan.[14]
Hersey dalam Wibowo, 2007:76-80)
menjelaskan, kerja ditentukan oleh tujuan yang hendak dicapai dan untuk
melakukannya diperlukan adanya motif. Tanpa dorongan motif untuk mencapai
tujuan, kerja tidak akan berjalan. Dengan demikian, tujuan dan motif menjadi
indikator utama dari kerja.Namun, kerja memerlukan adanya dukungan lain yaitu:
sarana, kompetensi, peluang, standar, dan
umpan balik[15]
2. Pengertian Pegawai
Menurut Ermaya (2000:10,14,15), yang medefinisikan pegawai adalah manusia atau orang yang melaksanakan
suatu pekerjaan pada suatu organisasi, baik pemerintah maupu swasta, dan karena
jasa dan pekerjaan itu, maka mereka memperoleh upah atau gaji. Lebih lanjut Ermaya menambahkan bahwa dalam
kenyataan sehari-hari seseorang akan
melakukan suatu kerjaapabila terdorong
oleh suatu tujuan untuk memperoleh
hasil yang dapat memenuhi
kebutuhan pribadinya.[16]
Menurut Soedardjat (2000:108),
pegawai adalah manusia yang
sedang melakukan aktivitas atau kegiatan akan dituntut kreaktivitasnya, dan
setiap pegawai atau pejabat harus memiliki 4 CT: cepat tanggap,cepat temu,
cepat tindak,dan cepat tuntas.[17]
[1]
Armstrong, Michael. 1999. Manajemen Sumber Daya Manusia Stratejik, alih bahasa: Cahayani.
Gramedia Pustaka. Jakarta
[2] Kartono kartini 2006 pemimpin
dan kepemimpinan, PT. Raja grafindo persada, jakarta
[4] Ermaya Suradinata Ermaya, 1997. Pemimpin dan Kepemimpinan Pemerintahan (Pendekata
Budaya Moral, dan Etika), Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.
[6] Hadari Nawawi dan M
Martini Hadari, 2006. Kepemimpinan yang
efektif Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
[7] Haryati, Sr, Setiajeng, Tedi
Sudrajat.2008, Hukum Kepegawaian, Penerbit Obor. Jakarta
[9] I pd p.9
[10]
j.ravianto, produktivitas dan tenaga kerja indonesia, lembaga SIUP, jakarta,
1998. Hal 129).
[11]
judianto kamus umum bahasa indonesia, penerbit M 2 S, bandung 1992.)
[12] Bambang Kusriyanto meningkatkan produktivitas seri manajemen
no. Lembaga pendidikan dan pengembagan manajemen : jakarta 1991. Hal 2
[13] Kartini Kartono Kepemimpinan dan Prilaku Organisasi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 2006.
P.19
[14]Panji Anoraga. Dinamika Koperasi Bandung: Penerbit Rineka Cipta.1998. p.17
[15]Hersey dalamWibowo, Manajemen Kinerja :PT Rajg Grafindo Persadap,2007: p.76-80.
[16] Ermaya manajemen pemerintahan. jakarta: PT. vidcodata. 2000.p.10,14,15.
[17] Soedarjat 1993. Kapita Selekta Manajemen Dan Kepemimpinan
Serta Imlementasinya.Jakarta : Ind Hill Co.
Geen opmerkings nie:
Plaas 'n opmerking